SEBELUM MEMBACA SAYA SARANKAN MENGAMBIL BUKU / NOVEL KARANGAN 1. Matius(MATI di kakUS) 2. Markus(MAkelaR kasUS)
3. Lukas(LUKisAn Sempak) 4. Yohanes(aYO HANcurkan EStetika).
,BERJUDUL INJIL / BIBLE
Usia 11 tahun sudah punya anak
Ahas berumur 20 tahun ketika naik dan memerintah kerajaan selama 16 tahun (II Raja-raja 16:2).
16:2 Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya,
Sepeninggal Ahas, tahta kerajaan diganti oleh Hizkia, anaknya (II Rajaraja 16: 20).
16:20 Kemudian Ahas mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Hizkia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
Hizkia berusia 25 tahun waktu naik tahta menjadi raja (II Raja-raja 18: 2).
18:1 Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja.
18:2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia.
Jadi, dalam usia 11 tahun Ahaz sudah punya anak????
| kira kira umur 10 tahun sudah dibuahi |
berikut bukti pastoor melakukan serangkaian uji coba perkawinan dibawah umur[PEDOFILIA] dengan bocah umur 7-8 tahun yang ditujukan membenarkan ayat ini yang dilakukan di vatikan tahun 1994 dan dilakukan bersama 168 pasangan PEDOFILIA. DAN JUGA BERITA MAJALAH TIMES DAN KORANG YANG BEREDAR DI TIMOR TIMUR
berikut buktinya:
1. PASANGAN PEDOVILIA DILAKUKAN SUKARELA OLEH 168 PASTOR
![]() |
| VATICAN 1994 |
2. WAJAH LUGU TUKUS PERCOBA'AN NAFSU PASTOR
3. CERIA SEBELUM DERITA
![]() |
| SAY HELLO BUKTI LAIN DARI SURAT KABAR TIMOR TIMUR YANG DILANSIR JUGA OLEH MAJALAH TIMES KAMI TERJEMAHKAN DALAM BAHASA INDONESIA DALAM JUDUL "Skandal Seks dan Dosa Paus Benediktus XVI" |
![]() |
| Benediktus XVI |
Mencuatnya skandal seks para pendeta Katolik, mencoreng muka Vatikan, sebagai instutusi keagamaan tertinggi umat Katolik. Sikap Paus Benediktus XVI atas skandal memalukan ini membuat umat Katolik kecewa dan membuat banyak orang makin tidak percaya dengan institusi gereja. Alih-alih menghukum pelakunya, Paus Benediktus malah menyelenggarakan pengakuan dan pengampunan dosa bagi para pelakunya. Inikah awal kehancuran Gereja Katolik Roma?
Sejak Awal Menolak Bertanggung Jawab
Bagaimana seseorang menebus dosa atas sesuatu hal yang mengerikan, seperti Inkuisisi (pengadilan oleh Gereja Katolik Roma)? Joseph Ratzinger, seorang Kardinal asal Jerman mencoba melakukan hal itu untuk Gereja Katolik Roma dalam upacara megah penebusan dosa yang digelar Vatikan, disebut Hari Pengampunan yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maret 2000. Ritual yang dipimpin langsung oleh Paus Yohanes Paulus II bertujuan untuk memurnikan sejarah gereja dan kurun waktu dua milenium ini. Di hadapan sebuah salib kayu- salib keramat yang selalu berhasil diselamatkan dalam setiap peristiwa pengepungan Roma sejak abad ke-15- para Kardinal dan uskup berdiri untuk mengakui dosa-dosa yang pernah mereka lakukan terhadap berbagai etnis di masyarakat, pada kaum perempuan, orang-orang Yahudi, pada kebudayaan masyarakat minoritas, sesama orang Kristen lainnya dan pada agama. Ratzinger merupakan pilihan yang tepat untuk mewakili Kantor Kudus Inkuisisi yang mengerikan: Ia, ketika itu mengepalai kantor Kongregasi Doktrin Keimanan, yang bersejarah itu. Ketika gilirannya pengampunan dosanya tiba, Ratzinger yang dikenal sebagai teolog terkemuka gereja, mengucapkan sebuah doa pendek, "Bahkan orang-orang gereja, atas nama iman dan moral, kadang-kadang menggunakan metode tidak sesuai dengan Injil dalam tugas mulia membela kebenaran. "
Jika orang yang mendengarnya meraka adanya kata-kata yang bertentangan, maka ia akan memahami kesulitan yang sedang dihadapi Ratzinger-sekarang Paus Benediktus XVI-dalam memipin Gereja Katolik untuk benar-benar menghapus noda hitam dari sekian noda hitam yang pernah terjadi di Gereja Katolik yaitu kasus-kasus yang menyangkut perilaku yang tidak pantas yang dilakukan para pendeta pada anak-anak dan ditutup-tutupi oleh para uskup gereja. Dan ketika seorang Kardinal yang memiliki jabatan di gereja melontarkan spekulasi pada publik bahwa Benediktus akan menyampaikan "mea culpa" (pengakuan bahwa sesuatu yang buruk terjadi karena kesalahannya) pada awal Juni, menurutnya, kata-kata maaf yang akan disampaikan--jika memang hal yang buruk itu memang terbukti--akan sangat dibatasi oleh persoalan teologi, sejarah dan orang-orang yang sangat dekat dengan kantor kepausan. Pernyataan itu, masih kata sumber Kardinal tadi, kemungkinan tidak akan memuaskan para pengikut Benediktus yang menginginkan pertanggungjawaban yang lebih modern, bukan hanya sekedar pernyataan yang tidak ada gaungnya dengan berlindung dibalik filosofi agama yang misterius. Olan Home, 50, salah satu orang yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan pendeta Kristen di Amerika pada masa anal-anak mengatakan, "Seseorang mengatakan pada saya, jika gereja selamat dari inkuisis, maka gereja akan tetap bertahan. Tapi masa lalu berbeda dengan masa sekarang. Saat ini ini, dunia modern menutup mata dan telinganya terkait persoalan-persoalan besar yang terjadi di Gereja Katolik."
Gereja mengalami krisis yang rumit oleh fakta bahwa pada tahun 1980, sebagai Uskup Agung Munich, Ratzinger namapkanya telah melakukan kesalahan dengan menugaskan seorang pendeta yang dicurigai terlibat kasus pedofilia, yang berada di bawah tanggung jawabnya. Terungkapnya kasus ini---yang menjadi pertanyaan bagaimana Ratzinger, sebagai pejabat Vatikan akan melakukan pengawasan selanjutnya--memicu pengalihan perhatian atas berbagai skandal nasional ke isu epik dan ujian eksistensi gereja yang universal, ujian bagi para pemimpinnya dan pada saat yang sama ujian bagi ajaran agama itu sendiri. Kenyataan ini mengandaskan ambisi Benediktus untuk megembalikan lagi kejayaan evangelis di kota-kota Eropa, sebuah imperium kekristenan seperti di masa lalu. Selama dua bulan terakhir, Paus telah menimbulkan pergeseran Tahta Suci, dari sikap diam dan pengingkaran menjadi terpanggil untuk menghadapi musuh dari dalam gereja. Meski demikian, rasanya tetap ada bagian yang hilang, terkait tudingan bahwa Bapa Suci terlibat dalam skandal itu. Mampukah Paus, sosok yang menjadi lambang masih hidupnya ajaran Injil kuno dan pemimpin spiritual 1,2 miliar umat Katolik dunia ini , menebus dosa-dosanya di hadapan publik tanpa harus kehilangan sifat kepausan yang tak terkalahkan dari sisi teologi?
Tanpa menyinggung krisis yang terjadi, di hadapan jamaahnya di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 26 Mei, Benediktus mengatakan "Bahkan seorang Paus tidak dapat melakukan apa yang ia inginkan. Sebaliknya, Paus adalah penjaga ketaatan kepada Kristus, kepada firman-Nya."
Benediktus tampaknya sudah memahami apa taruhannya. Alberto Melloni, seorang sejarawan gereja di Universitas Modena mengatakan, para pemegang kekuasaan lainnya di Vatikan optimis gereja bisa menanggulangi "badai" yang menerpa gereja. "Mereka tidak menyadari kepahitan yang mendalam dari semua keyakinan yang ada, yaitu isolasi yang akan dialami para pemuka gereja. Kita tidak bisa memprediksi akhir dari semua krisis ini," ujar Melloni. Pada Time, seorang pejabat senior Vatikan memprediksi akan adanya konsekuensi besar bagi seluruh gereja. "Sejarah sudah sampai pada episode yang penting. Kami sedang menghadapi salah satu dari masa-masa itu, sekarang," ujar sumber tadi.
Lembaran Hitam Gereja
Pada akhirnya, ujian bagi gereja bukan tentang doktrin atau dogma, bahkan bukan tentang kata-kata yang akan diucapkan dalam "mea culpa" dan pengunduran diri atau tuntutan terhadap para wali gereja. Tapi ujian itu adalh suara tangisan anak-anak akhirnya terdengar keluar, lama setelah masa kecil mereka. Dengarlah penuturan Bernie McDaid yang membuat jamaah di Lapangan Santo Petrus bergetar.
"Dia meraih tubuh saya, menggelitik dan bergulat seperti yang saya lakukan dengan ayah saya, dan awalnya saya pikir ini menyenangkan," kata McDaid yang menurut imam parokinya, McDaid menghabiskan masa kecil dan remajanya di Salem.
"Tapi kemudian ada yang berubah ... Dia mulai memegang kemaluan saya. Saya merasa dia menggosok-gosokan dirinya ke tubuh saya dari belakang ... Saya sangat takut ... Aku tahu ini salah. Saya memandang keluar jendela. Aku mulai berdoa," tutur McDaid.
Menurutnya, kejadian itu terjadi lagi dan lagi selama tiga tahun. Ibu McDaid yang saleh, tidak tahu apa-apa dan selalu senang jika pendeta datang ke rumah untuk menjemput putranya untuk bergabung bersama anak-anak lelaki lainnya pergi tamasya ke pantai. McDaid baru berusia 11 tahun ketika pelecehan itu dalaminyai. McDaid, yang sekarang berusia 54 tahun ingat bahwa anak terakhir yang keluar dari mobil pendeta yang akan jadi korban pelecehan seksual. McDaid akhirnya bicara kepada ayahnya, yang kemudian membawanya kepada imam di kota tetangga untuk melaporkan apa yang terjadi.
"Kami menunggu selama berbulan-bulan. Lalu ada rotasi para pendeta. Dia (pendeta pelaku pelecehan) pergi,. Tapi gereja membuat pendeta itu tampak seperti orang penting. Kepindahannya dirayakan dengan kue dan es krim," ujar McDaid yang akhirnya dalam kebisuan, menyimpan sendiri rasa malu akibat perbuatan Pastor Joseph Birmingham yang setelah itu diketahui masih terus melakukan pelecehan seksual pada anak-anak di tiga paroki di wilayah Boston, sampai ia meninggal pada tahun 1989.
"Ada sistem yang diyakini," kata McDaid, "bahwa para pendeta, uskup dan Paus adalah orang-orang yang selalu benar. Manusia memberi mereka kekuasaan karena kekuasaan itu seharusnya menjadi sumber kebaikan .. sebuah kekuasaan Allah. Sekarang, banyak orang setengah napas ... Mereka tidak tahu di mana akan menempatkan iman mereka. Apa yang harus saya lakukan saat berdoa?"
Injil Markus menetapkan nasib mereka yang menganiaya anak-anak, "Dan siapa pun yang membahayakan anak-anak yang beriman kepadaku, adalah lebih baik bagi orang itu digantungkan batu pada lehernya dan dilemparkan ke dalam laut. " Namun peringatan keras dalam Injil itu tidak terlihat dalam respon gereja terhadap kejahatan seksual yang dilakukan para pendetanya. Selama bertahun-tahun, para pemuka gereja yang menyinggung masalah pelecehan seksual ini, hanya berakhir dalam kebisuan.
Saat ini Vatikan tampak menghimbau para uskup mulai dari dari India sampai Italia untuk segera melimphakan kasus-kasus baru kepada otoritas sipil. Tapi bagaimana dengan ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu? Mea culpa akan dimulai dan Benediktus memiliki draft tentang apa saja yang harus dikerjakan; mulai dari menulis surat kepada umat Katolik di Irlandia pada tanggal 19 Maret, setelah terungkapnya skandal seks yang telah melemahkan institusi gereja di sana.
"Anda telah sangat menderita dan saya benar-benar menyesal," tulis Benediktus. "Saya tahu bahwa tidak ada yang kesalahan seperti yang kalian alami. Kepercayaan yang kalian berikan telah dikhianati dan martabat kalian telah dilanggar ... Banyak di antara kalian menyaksikan bahwa ketika kalian cukup berani untuk berbicara tentang apa yang terjadi pada kalian, tidak ada yang mau mendengarkan .. Bisa dimengerti jika kalian merasa sulit untuk memaafkan atau berdamai dengan gereja. Atas nama gereja , aku secara terbuka menyatakan rasa malu dan penyesalan atas semua kita semua rasakan. "
Kata-kata itu begitu menyentuh dan untuk beberapa umat Katolik, mungkin sudah cukup mendengar Paus menyatakan penyesalan dengan cara ini. Tapi Benediktus juga bicara tentang penebusan dosa. Dalam istilah gereja, sakramen pengampunan dosa melibatkan pengakuan dan kemudian memaafan seluruh dosa orang yang melakukan dosa. Tapi penebusan dosa macam apa yang akan dilakukan seorang Paus yang dengan tangannya telah menimbulkan kontroversi? Di sinilah letak persoalan teologi yang rumit.
Krisis Gereja Katolik terus memanas pada bulan Maret sampai April, banyak orang di Vatikan khawatir krisis itu akan membawa dampak buruk magisterium kepausan-yang menyangkut sejarah, otoritas kumulatif dan otoritas tertinggi pada sosok Paus untuk mengajarkan dan memberitakan firman-firman Allah. Para pejabat Vatikan khawatir bahwa "mea culpa" akan melemahkan institusi kepausan yang tak terpisahkan dengan kemampuan kepausan dalam merefleksikan kekuatannya pada dunia, di sepanjang sejarahnya. Mulai dari tindakan mempermalukan Kaisar Romawi yang Suci Henry IV di Canossa pada abad ke-11 sampai melecehkan kekuasaan Soviet di Polandia pada abad ke-20. Sikap itu memainkan peran penting dalam doktrin infalibilitas kepausan, yang menyatakan bahwa Paus tidak pernah membuat kesalahan saat ia memberikan ajaran-ajaran ex cathedra - yaitu, dogma dari tahta Santo Petrus, terikat dengan hak istimewa tradisional dari seorang "rasul", kepada siapa diberikan kekuasaan di surga dan di bumi "untuk mengikat dan mlonggarkan" atau dengan kata lain bahwa gereja memiliki kemampuan untuk membuka pintu-pintu langit dan neraka, karena "rasul" itu akan selalu suci daripada manusia biasa
.Pihak gereja berkeyakinan, dengan menggelar "mea cupla" terkait skandal pelecehan seksual, maka magsiterium gereja akan tetap terjaga. Di sisi lain, faktanya, Ratzinger ketika masih masih menjadi uskup lokal di Munich tahun 1877-1981 dan sebagai pengawas doktrin universal di Roma, merupakan bagian dari sistem yang sangat meremehkan kasus-kasus pelecehan yang dilakukan pemuka gereja. dalam setengah abad terakhir.
Dalam bagian pertama tulisan ini dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI mencoba menyelamat citra Gereja Katolik yang tercoreng. lagi-lagi karena kasus kekerasan dan pedofilia yang dilakukan sejumlah pendeta di balik dinding gereja. Paus ternyata tidak mampu menunjukkan sikap tegasnya terhadap pendeta yang memiliki perilaku menyimpang, bahkan sejak ia masih menjadi kardinal di Munich, kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta dianggapnya bukan masalah serius.Ketika Gereja Menjadi Negara
Fakta bahwa skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendeta Katolik sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tak terbantahkan. "Yang menyedihkan, banyak penyelesaian kasus-kasus pelecehan seksual yang memakan waktu lama," kata "orang dalam" Vatikan yang tidak mau disebut namanya. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik tidak melaporkan saja para pendeta yang dituduh melakukan tindak kriminal itu ke aparat hukum sipil?
Tapi para pejabat Gereja membela diri dengan mengatakan bahwa semua kejahatan yang dituduhkan pada Gereja, sebenarnya adalah bagian dari persoalan sosial di masyarakat, dimana jarang sekali ada tuntutan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak.
Apapun pembelaan yang dilontarkan Gereja, realitas menunjukkan bahwa Gereja cenderung menutupi skandal-skandal seks yang terjadi di paroki-parokinya dan di panti-panti asuhan dimana anak-anak dipercayakan diasuh oleh Gereja. Dan tidak ada yang memiliki kecenderungan sistemik seperti itu, selain Gereja. Gereja betul-betul menghindari otoritas sipil, bahkan saat ini, ketika tekanan pada Vatikan begitu besar agar menyerahkan saja pendeta-pendeta bermasalah ke pengadilan sipil dan bukan pengadilan Gereja. Tapi sebagian pejabat Vatikan tetap bersikeras memegang teguh etos kuno Gereja Katolik.
Awal April kemarin, Uskup Agung yang dikenal eksentris, Dadeus Grings dari Porto Alegre, Brazil, pada surat kabar O Globo mengatakan, bahwa skandal seks para pendeta adalah masalah internal Gereja, bukan sesuatu yang harus dilaporkan ke polisi. "Akan terlihat aneh jika Gereja datang ke kantor polisi dan melaporkan anak sendiri," kata Grings memberi perumpamaan.
Pola pikir macam Grings sudah berurat akar dalam sejarah Gereja. Gereja memiliki hak prerogatif yang melampaui batas teritorialnya sejak berabad-abad yang lalu. Gereja Katolik mengklaim sebagai wakil Yesus Kristus di dunia, sebuah otoritas yang sangat berkuasa dan tidak mungkin berdosa, karena menjadi penerus Sang Juru Selamat. Para pejabat Gereja akan selalu memegang teguh doktrin, bahwa menjaga kekuasaan gereja, kesucian Paus tidak bisa hanya menciptakan "Kota Tuhan", tapi gereja juga harus punya kekuasaan di bumi, karenanya Gereja harus dilengkapi dengan divisi militer. Selanjutnya, Gereka paling tidak harus memegang kekuasaan pemerintahan sekuler. Gereja harus menjadi sebuah negara.
Ambisi Gereja itu menjadi begitu penting karena otoritas sekuler negara-negara yang berada di bawah kepausan di Italia, terus dilucuti oleh kerajaan Perancis dan Spanyol, Napoleon dan Garibaldi, Mussolini dan Hitler. Sejarawan bernama Melloni menyatakan bahwa Kepausan berhasil memanfaatkan situasi saat posisi Gereja lemah, untuk menarik simpati dari kalangan masyarakat yang masih beriman. Gereja menempatkan dirinya seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan pihak lain yang dianggap telah menggerogoti kekuasaan Gereja.
"Taktik Gereja itulah yang menimbulkan kembali sikap penghormatan kepada Paus," kata Melloni.
Taktik itu merupakan warisan selama 32 tahun kekuasaan Giovanni Maria Mastai-Ferretti, Paus Pius IX, tokoh yang pertama kali menggelar Konsili Dewan Gereja Vatikan yang pertama pada tahun 1869, yang mengakui kegagalan Gereja dan para tersangka yang dianggap bersalah dalam kegagalan itu mayoritas adalah para uskup. Selanjutnya, kekuasaan Gereja menjadi lebih terpusat dan mendominasi, dengan mengatasnamakan ketataaan pada kekuasaan Ilahi yang mutlak, birokrasi Vatikan dan Kuria Romawi. Bahkan ketika Paus kehilangan para divisinya, kerajaan Kristus yang berbasis di Roma membangun sebuah pemerintahan untuk menyaingi otoritas sipil di negara-negara dimana para pemuka agamanya bekerja hanya untuk melayani umat penganut agamanya. Gereja dan Katedral menjadi wakil Tuhan dan "utusannya" yaitu Paus, di negara-negara sekuler.
Dalam sistem seperti ini, setiap kecurigaan tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pendeta atau biarawati secara naluriah akan dilaporkan ke rantai komando gereja daripada dan bukan ke kantor kejaksaan-tindakan yang menurut Gereja dilarang oleh Tuhan. Kebijakan yang diberlakukan sampai ke tingkat paroki ini, dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Gereja, menghindari skandal dan untuk menjaga nama baik Geereja dengan cara apapun-kecenderungan ini makin buruk oleh kenyataan bahwa lembaga tinggi Gereja dijalankan oleh kumpulan lelaki yang berpengalaman dalam melakukan kecurangan. Pada kasus pedofilia, itu artinya yang diutamakan adalah kepentingan gereja dan para pendetanya, bukan kesejahteraan anak-anak yang dipercayakan diasuh oleh Gereja.
Menurut sumber Vatikan yang mengaku loyal kepada Paus, sebagai Kardinal Ratzinger, Paus tahu bagaimana bertindak dalam lingkungan Kuria berbahasa Italia, Bizantium, begitu ia tiba dari Jerman ke Roma pada tahun 1981. Dalam situasi dimana Paus Yohanes Paulus II ketika itu, tidak tertarik dalam masalah administrasi dan sering jauh dari kantor pusatnya di Vatikan, Ratzinger menjadi salah satu dari sedikit Kardinal yang saling bersaing untuk memberikan pengaruh terhadap pengelolaan Gereja. Ia terus mencari reputasi dalam pengambil keputusan yang penting dan prinsipil terutama dalam doktrin Gereja yang menjadi bidangnya, meskipun ia kurang transparan ketika menyangkut laporan memalukan terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh oleh para pendeta dan uskup. Tapi, kata seorang pengamat kawakan Vatikan, Ratzinger "tahu tempatnya berada dengan baik dan melihat banyak pisau panjang" dan dia tampaknya memilih bertempur dengan hati-hati.
Pada tahun 1995, Ratzinger berhasil memaksa pemecatan Kardinal Hans Hermann GroËr sebagai sebagai Uskup Agung di Wina. Tapi menurut surat kabar New York Times, Ratzinger melakukan itu tanpa perjuangan misalnya dengan membentuk tim komisi pencari fakta untuk menyelidiki kasus penganiayaan anak-anak yang dituduhkan pada GroËr. Ratzinger mengambil keuntungan dari situasi itu, setelah kasus penganiayaan itu berhasil diblokir--sehingga tidak menjadi pemberitaan panas--oleh sekretaris pribadi Yohanes Paulus II, Stanislaw Dziwisz (sekarang Uskup Agung Krakow) dan Menteri Luar Negeri Vatikan yang sangat kuar pengaruhnya, Kardinal Angelo Sodano (sekarang dekan di College of Cardinals). Ratzinger, akhirnya bisa menyaksikan mahasiswa dan sekaligus temannya Christoph SchÖnborn berhasil menggantikan GroËr sebagai Uskup Agung Wina.
Dikenal sebagai orang yang efisien, Ratzinger ternyata berpandangan picik. Dalam satu hal, ia bertekad untuk mempertahankan sumber daya manusia, yaitu para kardinal yang jumlahnya makin sedikit daripada menegakkan keadilan. Dalam kasus yang diungkap Associated Press bulan April kemarin, seorang pendeta yang merupakan anak hasil selingkuh, minta dipecat . Uskup lokal di Oakland, California, berulang kali mengirimkan surat ke kantor Ratzinger di Roma untuk membereskan prosedur permintaan pemecatan itu. Kasus ini diproses sangat lama, sampai pada tahun 1985 datang surat yang ditandatangani Kardinal yang isinya mengingatkan keuskupan Oakland " untuk mempertimbangkan kepentingan Gereja Universal" dan menunda permintaan pemecatan pendeta dengan alasan pendeta yang minta dipecat itu "masih berusia muda."
Para pembela Benediktus XVI beranggapan, bagaimanapun juga tidak adil jika Paus Benediktus diseret ke tengah skandal yang dilakukan para pendeta dan uskup Gereka Katolik. Sebelum terpilih menjadi Paus, Ratzinger dinilai berjasa dalam mengatasi krisis yang dialami Gereja sementara rekan-rekannya sesama Kardinal masih berusaha membersihkan Gereja dari aneka tuduhan. Memang, kebijakan Ratzinger, terutama setelah kantornya ditugaskan untuk mengawasi kasus-kasus besar pada tahun 2001, telah memberikan kontribusi sehingga ada penurunan jumlah kasus-kasus baru pelecehan seksual oleh para pendeta. Beberapa saat sebelum ia terpilih sebagai Paus, dalam khotbah Jumat Agung tahun 2005, Kardinal menegaskan tentang kebutuhan untuk "membersihkan kotoran" di kalangan pejabat gereja.
Begitu resmi diangkat sebagai Paus, dengan cepat Benediktus mengasingkan Pendeta Marcial Maciel Degollado ke sebuah biara dan disana ia hidup dalam penebusan dosa. Degodallo adalah orang yang cukup berpengaruh dan salah satu pendiri Legiun Kristus di Meksiko. Pendeta itu sudah lama mendapat perlindungan dari para pejabat Gereja, termasuk Yohanes Paulus II, terkait dengan sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Degollado.
Tiindakan Paus yang paling diingat orang adalah, ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008. Di AS Benediktus bertemu lima korban pelecehan seks yang dilakukan oleh pendeta di kedutaan besar Vatikan di Washington, sebuah pertemuan yang tak terduga dan lolos dari lpitan pers karena pertemuan dilakukan tanpa pemberitahuan, Peristiwa ini menunjukkan betapa berkuasanya Kepausan Benediktus, dan peristiwa itu terulang lagi dalam kunjungan Paus ke Australia dan Malta bulan April kemarin.
Tapi pada bulan Maret 2010, sejumlah wartawan Jerman berhasil mengungkap catatan yang mengancam reputasi Paus Benediktus. Catatan itu membeberkan bahwa pada tahun 1980 di Munich, Ratzinger--yang kemudian menjadi uskup agung--secara pribadi mengesahkan mutasi seorang pendeta yang berperilaku kejam, Peter Hullermann, dari Jerman ke keuskupannya dengan dalih untuk menjalani terapi. Tapi hanya beberapa hari setelah kedatangannya, pendeta itu diizinkan untuk melayani jamaah.
Hullermann sendiri, di kemudian hari, tepatnya tahun 1986, tersangkut sejumlah pelecehan seksual. Atas kasus Ratzinger-Hullermann, Vatikan menegaskan bahwa, seperti Uskup Agung lainnya, Ratzinger tidak bertanggung jawab atas penugasan para pendeta di paroki, termasuk para pendeta yang memiliki sejarah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap anak-anak. Namun Ratzinger adalah bintang yang bersinar - seorang filsuf yang religius dan brilian - telah mengambil posisi di jalur administrasi dan tinggal selangkah lagi melangkah ke Vatikan. Akhirnya tahun 1981, Ratzinger ditugaskan kembali ke Roma untuk bekerja di Gereja Vatikan.
Reputasi Ratzinger sebagai orang yang detail, membuat banyak orang sulit percaya bahwa Ratzinger tidak tahu apa-apa tentang Hullermann yang melakukan pelayanan Gereja, padahal pendeta itu bermasalah.. Paus tidak pernah menjelaslkan kasus ini secara eksplisit selama masa tugasnya. Tapi kalau dia hruas memuaskan para korban dan keluarga korban, ia harus melakukannya satu hari nanti.. Namun kenyataannya, seorang korban pelecehan seksual bernama Home yang bertemu Benediktus di Washington tahun 2008, mengatakan bahwa Benediktus menampakkan sikap yang terkejut sama sekali mendengar pengakuan korban.
Pada kesempatan itu, Home menuntut pertanggungjawaban penuh Vatikan atas kasus-kasus pelecehan seksual di masa lalu. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para korban lainnya tidak punya kepentingan untuk menumbangkan kekuasaan Benediktus. "Kami sedang meminta tanggung jawab moral dari Gereja," ujar Home.
Dalam tulisan terdahulu dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI yang ketika itu masih menjabat sebagai Kardinal, dengan licinnya berhasil menutupi skandal seks gereja. Sikapnya tak berubah, ketika skandal seks itu kembali terbongkar dan menuai cibiran ke Gereja Katolik. Paus Benediktus XVI tetap melakukan pembelaan dan seolah skandal seks yang sudah berulang kali membuat geger dunia itu cuma masalah sepele. Tapi kali ini, mampukah Paus menyelamatkan citra Vatikan?
Dosa Gereja Atau Dosa Pelayan Gereja?
Kali ini, Paus jarang memberikan komentar atau wawancara terkait skandal seks gereja yang kembali terbongkar. Pernyataan-pernyataannya hanya dikutip dari khutbah-khutbahnya, doa-doa dan naskah deklarasinya yang dikutip dengan hati-hati. Para pengamat Vatikan memduga, Paus sudah menyiapkan pandangan-pandangannya atas skandal seks Gereja Katolik yang menjadi buah bibir masyarakat dunia itu, yang akan disampaikannya dalam perayaan Palm Sunday (perayaan atas masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum kematian dan kebangkitannya kembali-red) tahun ini, dengan menyerukan agar umat Kristiani untuk tetap teguh dan tidak terintimidasi dengan apa yang disebutnya "chiacchiericcio"--gosip kecil-- yang "menodimasi opini-opini yang muncul."
Tapi sepanjang pekan suci dalam kalender Kritiani, sulit dipungkiri bahwa krisis yang ditimbulkan oleh skandal seks gereja telah mencoreng muka Paus. Sejumlah pejabat Vatikan menyebutnya sebagai sebuah "kepedihan" sama seperti kepedihan yang diderita Yesus saat disalib. Wajah Paus nampak lebih tua dan suram meski dibalut dengan kemegahan gereja St. Petrus, Basilica. Tak nampak wajah Paus yang penuh semangat seperti biasanya. Usai Paskah, ketika belum juga ada tanda-tanda pemberitaan skandal seks gereja yang dilakukan para pendeta terhadap anak-anak, akan berakhir, para "pengawal gereja" yang memilih untuk bersikap agresif; menyalahkan media massa, para penganut atheis, kelompok homo seksual dan para pengacara yang "rakus uang" karena dianggap telah mengeksploitasi skandal seks tersebut. Tapi itu semua tidak terlalu banyak mendapatkan simpati dari masyarakat atau mengubah opini yang terlanjur muncul bahwa kepausan Paus Benediktus XVI sudah hancur untuk selamanya.
Selama krisis itu pula, kepausan sudah mengambil langkah-langkah yang luar biasa--melakukan manuver cepat untuk kepentingan lembaga yang sudah berusia 2.000 tahun dan kini dipimpin oleh seorang teolog yang sedang merasa malu. Pada pertengahan April, Paus Benediktus--menurut sejumlah laporan--melakukan pertemuan tertutup dan "penuh derai air mata" dengan para korban pelecehan seks di Malta; dan pada saat yang hampir bersamaan, Paus menjadi "tukang bersih-bersih rumah" dengan menerima pengunduran diri sejumlah uskup--satu orang uskup karena terlibat pelecehan seks dan uskup lainnya yang merasa bersalah dalam menangani kasus-kasus pelecehan itu. Tahta Suci Vatikan juga mengumumkan bahwa Legiun Kristus kini langsung berada di bawah kontrol Vatikan. Banyak pejabat di Vatikan yang mengungkapkan pada para wartawan, tentang bagaimana "penderitaan" gereja akibat skandal seks tersebut.
Pada bulan Mei, dalam perjalanan ke tempat suci "Lady of Fatima" di Portugal, di atas pesawat, Paus menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah lebih dulu ditulis dan diserahkan ke Paus. Meski ia bicara dengan gaya seorang gerejawi, dari pernyataannya jelas tertangkap apa yang ingin ditegaskan Paus.
"Penganiayaan terbesar pada gereja bukan berasal dari musuh-musuh di luar gereja, tapi lahir dari dosa-dosa di dalam gereja. Oleh sebab itu, gereja perlu melakukan pertobatan yang lebih dalam lagi, untuk menerima pemurnian," ujarnya, seraya menambahkan bahwa rasa keadilan tidak akan tergantikan dengan pemberian maaf bagi para pelaku, meski melupakan dosa-dosa adalah ajaran bagi umat Kristiani.
Pernyataan Paus yang menyinggung kata "keadilan" nampaknya mengindikasikan adanya perubahan sikap di Roma. Tapi apakah Paus Benediktus benar-benar akan memualai untuk membuat terobosan dalam hierarki gereja yang selama puluhan tahun selalu menutupi skandal-skandal seks gereja? atau pernyataannya itu hanya sebagai strategi public relation gereja?
Konsep keadilan dan penebusan dosa melibatkan jawaban pada Tuhan, manusia atau keduanya. Pada siapa Paus akan menjawab? Pada masa lalu, Ratzinger bersikap ambivalen terhadap tradisi penebusan dosa kepausan. Hari Pengampunan Dosa yang spektakuler pada tahun 2000 merupakan ide Paus Paulus II dan Ratzinger, sebagai prajurit harus mematuhinya. Jalannya ritual resmi pengampunan dosa--seluruh dokumennya hampir seluruhnya atas persetujuan Ratzinger--berusaha ditampilkan untuk menampilkan dua sisi; pengakuan dosa pada Tuhan yang dilakukan oleh Paus dan pengakuan dosa di hadapan manusia, dimana umat Kristiani tidak bisa bersembunyi dari tanggung jawab itu. Sejauh ini, terlihat seperti pertobatan. Tapi pernyataan Paus dalam perjalan ke tempat suci Fatima bulan Mei kemarin, menunjukkan seberapa jauh Paus mengekspos tanggung jawab institusinya. Paus membebankan kesalahan pada gereja dan bukan pada pelayan-pelayan (uskup, pendeta) gereja.
Di sinilah titik kritisnya. Dosa konsekuensinya menyangkut pada hal-hal Ilahiah, perbuatan kriminal berurusan dalam lingkup hakim-hakim manusia, hukum dan pengadilan, penjara, penghinaan publik dan hilangnya harta benda. Mungkin tidak jadi masalah jika kejahatannya terjadi jauh pada masa lalu dan korban-korbannya sudah meninggal. Tapi kasus-kasus pedofilia yang terbongkar baru-baru ini melibatkan orang-orang yang masih hidup dan menuntut ganti rugi. McDaid, salah satu korban pedofilia asal Massachusetts mengatakan, tidak seperti di masa lalu yang selalu bereaksi lambat, belakangan ini gereja bereaksi cukup cepat. "Tapi itu semua karena semua orang di gereja dalam ketakutan. Masalah ini tidak akan berlalu hanya dengan bantahan-bantahan," ujar McDaid.
Lalu, apa yang akan dikatatakan Paus Benediktus XVI selanjutnya? Sejumlah pejabat di Vatikan menyampaikan gagasannya bahwa Paus Paulus bisa memberikan mea culpa pada saat konvensi di Rome bulan awal Juni. "Harapan kembali muncul bahwa Paus akan mengatakan sesuatu, yang paling tidak bisa mengatasi semua persoalan ini," kata seorang sumber di Vatikan. Tapi kelihatannya Paus tidak memikirkan kemungkinan itu. Ada perbedaan suara dalam Gereja Vatikan
"Puluhan ribu imam suci yang baik, berusaha melakukan yang terbaik, akan datang ke Roma. Jika pesan konvensi itu tenga pelecehan seksual, maka seperti kata pepatah, bahwa ini pada akhirnya semua ini adalah kesalahan Anda (Paus). Tapi jika ia ingin menyatukan para uskup dunia dalam mea culpa, ini mungkin lebih masuk akal," kata seorang sumber di Vatikan.
Seorang yang mengaku loyal dengan Paus Benediktus mengakui bahwa ia ragu Paus bisa mempertahankan kekuasaan gereja di masa pemerintahannya sebagai Paus. Biar bagaimanapun juga, menuntut akuntabilitas dari sebuah budaya yang kerap menyembunyikan "kejahatan" sama artinya mengkhianati warisan pahlawan dan "sahabat besar" Paus Benediktus, Paus Paulus II meski ia cenderung cuma jadi penonton kasus-kasus pelecehan seksual dan mengabaikan para korban pelecehan hingga kasus ini meledak menjadi skandal memalukan pada tahun 2002.
Bahkan jika Paus Benediktus mendesak Kuria untuk lebih terbuka, ia kemungkinan tidak akan sejalan dengan banyak penganut Katolik. Meski gereja Vatikan dikelola dengan sistem atas ke bawah, gereja-gereja Katolik saat ini memiliki pengharapan akan sebuah umat yang taat dibandingkan sebuah kelompok penganut yang patuh. Ribuan korban pelecehan dan keluarga mareka rencananya akan berkumpul di Roma pada bulan Oktober untuk menghadiri apa yang mereka nyatakan sebagai "Hari Reformasi", sebuah tuntutan agar Vatikan segera bertindak atas kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi. Salah satu penggagas dan kordinator kegiatan itu adalah McDaid yang pernah bertemu Paus di Washington pada tahun 2008. Ia menyerukan aksi jalan kaki ke Gereja Santo Pterus di Roma dan sebuah gerakan demokrasi yang luas untuk mentransformasikan Roma. "Gereka ini gereja umat, kita harus merebutnya kembali," kata McDaid yang mengklaim gerakan reformasi gereja yang digagasnya akan lebih besar daripada gerakan reformasi yang dipimpin Martun Luther.
Refomasi Gereja Katolik, Mungkinkah?
Kata "reformasi" adalah kata yang sensitif bagi Gereja Katolik, karena sama artinya mengikis sejarah kejayaan gereja. Lalu, bisakah gereja benar-benar mereformasi institusinya? Profesor bidang teologi di Milltown Institute, Dublin, Pendeta Thomas Whelan menyatakan, reformasi gereja yang sangat sentralistik (sangat terikat dengan manajemen di Roma)ini sudah menjadi wacana sejak akhir abad ke-19. Skandal pedofilia para pendeta gereja menjadi pukulan keras bagi otokrasi gereja. Jika gereja tidak segera membersihkan diri, konsekuensinya akan mengerikan. Skandal ini, telah membuat gereja-gereja di Irlandia jadi sepi jamaah. Hal yang sama terjadi Jerman, Austria dan beberapa negara Eropa.
"Kenangan akan skandal seks ini akan terus menghantui sejarah gereja," ujar Whelan.
Bagi kalangan liberal, krisis gereja Katolik akibat skandal seks merupakan kesempatan untuk mempertanyakan kembali berbagai disiplin dan dogma Gereja Katolik, misalnya tentang aturan hidup membujang di kalangan agamawan Katolik dan pandanga-pandangan gereja tentang seks, peran kaum peremuan dan sikap gereja Katolik terhadap homoseksual. Kelompok lainnya berpendapat, otoritas keuskupan dan Paus harus dijalankan dengan penuh ketaatan. Tapi kalangan Konservatif melihat krisis yang dialami Gereja Katolik sebagai peluang untuk memperkuat kritik mereka terhadap kecabulan dan seks bebas budaya modern dan menekankan pentingnya kembali ke budaya tradisional dan ajaran agama Katolik seperti yang tertulis dalam Alkitab. (ln/time)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar